Lewati ke konten
Kembali ke Daftar Tokoh
Tumenggung Antaludin

Panglima Perlawanan Perang Banjar dari Pegunungan Meratus

Tumenggung Antaludin

Tempat Lahir
Kampung Amawang, Kandangan, Hulu Sungai Selatan

Panglima lokal yang memimpin perlawanan rakyat Banjar terhadap kolonial Belanda di kawasan pedalaman Hulu Sungai. Memadukan legitimasi adat, kepemimpinan militer, dan strategi gerilya di medan Pegunungan Meratus, ia menjadi salah satu tokoh kunci yang menjaga keberlangsungan Perang Banjar.

Cerita & Riwayat

A. Pendahuluan Perang Banjar merupakan salah satu episode penting dalam sejarah perlawanan rakyat Nusantara terhadap kolonialisme Belanda pada abad ke-19. Konflik yang berlangsung sejak tahun 1859 ini bukan sekadar pertikaian politik akibat sengketa suksesi Kesultanan Banjar, melainkan berkembang menjadi gerakan perlawanan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Perang ini memperlihatkan karakter perjuangan yang luas dan beragam. Dengan strategi gerilya, penguasaan alam dan medan tempur serta jaringan solidaritas antarkomunitas mampu memperpanjang perlawanan selama puluhan tahun. Oleh karenanya Perang Banjar tidak hanya dipahami sebagai konflik militer, tetapi juga sebagai manifestasi semangat kolektif masyarakat Kalimantan Selatan dalam mempertahankan eksistensi politik, sosial, dan budayanya. Di balik narasi besar Perang Banjar, terdapat sejumlah tokoh yang memainkan peranan penting. Meskipun tidak semuanya memperoleh perhatian yang seimbang dalam historiografi Indonesia, nama-nama seperti Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, dan Demang Lehman telah lama dikenal sebagai simbol perjuangan rakyat Banjar. Namun, di antara para pemimpin perlawanan tersebut terdapat seorang panglima yang memiliki pengaruh besar di wilayah pedalaman, khususnya di kawasan Hulu Sungai, yaitu Tumenggung Antaluddin. Sebagai salah satu figur sentral dalam mempertahankan keberlangsungan perjuangan bangsa Banjar, sosoknya merupakan representasi kepemimpinan lokal yang berhasil memadukan strategi militer, legitimasi adat, dan semangat mempertahankan tanah air di tengah tekanan kolonial. B. Biografi Tumenggung Antaluddin: Panglima Perlawanan dari Pegunungan Meratus Dalam sejarah Banjar belum ditemukan catatan lengkap tentang profil Tumenggung Antaluddin. Menukil tulisan buku Peristiwa Bersejarah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan (1850-1950), beliau diperkirakan lahir pada pertengahan abad ke-18 (1761) di Kampung Amawang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Sedangkan cerita masa kecil dan masa mudanya tidak diketahui dengan pasti. Sosok Antaluddin mulai dikenal secara luas setelah kedatangan Pangeran Hidayatullah dan keluarga, beserta pengikutnya, dari Kerajaan Banjar di Martapura ke Kandangan. Maksud Pangeran Hidayatullah beserta pengikutnya berada di Kandangan adalah untuk menggalang perjuangan rakyat membantu melawan Belanda. Seluruh tokoh dan pemuka masyarakat Kandangan saat itu diundang untuk bermusyawarah. Hadir dalam pertemuan tersebut para tetua masyarakat Kandangan, Sei Kudung, Padang Batung, Baluti, dan Amawang. Hasilnya, terbentuklah badan perjuangan melawan penjajah Belanda dan Pangeran Hidayatullah menunjuk Antaluddin sebagai pemimpin dengan gelar Tumenggung. Gelar yang disandangnya bukan sekadar penanda status sosial, melainkan jabatan resmi. Dalam sistem birokrasi kerajaan, seorang Tumenggung bertugas mengatur keamanan wilayah, memimpin masyarakat, serta menjalankan fungsi pemerintahan di daerah. Jabatan tersebut memberikan legitimasi politik sekaligus pengaruh adat yang kuat, sehingga ia dihormati oleh masyarakat Banjar maupun komunitas Dayak di kawasan tersebut. Adapun pembantu dan pengawal Tumenggung Antaluddin antara lain Surgi H. Abdushaid, Matamim, Matsaman, dan Dukarim. Inilah titik awal perjuangan Tumenggung Antaluddin dalam kiprahnya pada Perang Banjar melawan Belanda. Masa kehidupan Tumenggung Antaluddin berlangsung pada periode ketika Kesultanan Banjar menghadapi tekanan politik dan ekonomi yang semakin besar dari pemerintah kolonial Belanda. Dalam situasi tersebut, Tumenggung Antaluddin memilih berpihak kepada perjuangan rakyat, bergabung dengan jaringan perlawanan yang dipimpin oleh Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari, beserta para pemimpin daerah lainnya. Sayangnya, data biografi Tumenggung Antaluddin masih relatif terbatas. Arsip-arsip kolonial Belanda lebih banyak mencatat dirinya dalam konteks operasi militer. Sementara sumber-sumber lokal yang umumnya diwariskan melalui tradisi lisan, hikayat, serta ingatan kolektif masyarakat Hulu Sungai Selatan tidak banyak dimiliki. Kondisi ini menyebabkan beberapa aspek kehidupannya, seperti tahun kelahiran, latar belakang keluarga, pendidikan, maupun akhir hayatnya, belum dapat dipastikan secara definitif. Keterbatasan sumber tersebut justru membuka ruang bagi penelitian sejarah yang lebih mendalam, melalui pendekatan historiografi kritis, penelitian arsip kolonial, naskah lokal, serta sejarah lisan. C. Perjuangan Tumenggung Antaluddin dalam Perang Banjar Perang Banjar secara terbuka dimulai dengan penyerangan tambang batubara Orange Nassau di Pengaron pada tanggal 28 April 1859 oleh Pangeran Antasari. Sejarah Perang Banjar (1859–1905) mencatat nama Tumenggung Antaluddin menempati posisi penting sebagai salah seorang panglima perang yang gigih memimpin perlawanan rakyat Banjar terhadap kolonial Belanda. Tumenggung Antaluddin dikenal sebagai pemimpin lokal yang memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat pedalaman. Seperti yang telah disampaikan di atas, sebagai seorang tumenggung, jabatan tersebut memiliki otoritas dalam struktur pemerintahan tradisional Banjar sekaligus legitimasi adat. Ia tidak hanya bertanggung jawab dalam urusan pemerintahan lokal, tetapi juga menjadi tokoh yang mampu menggalang persatuan masyarakat ketika ancaman kolonial semakin meluas. Keterlibatan Tumenggung Antaluddin dalam Perang Banjar tidak dapat dilepaskan dari konflik yang bermula pada tahun 1859 akibat campur tangan Belanda dalam urusan internal Kesultanan Banjar. Seiring berkembangnya perang, perlawanan tidak lagi dipimpin semata oleh keluarga kerajaan, melainkan juga oleh para kepala adat, pemimpin lokal, ulama, dan panglima daerah yang memiliki pengaruh kuat di tengah masyarakat. Sebagai seorang pimpinan perang, Tumenggung Antaluddin memiliki kemampuan mengorganisasi kekuatan rakyat melalui strategi perang gerilya. Ia memanfaatkan kondisi geografis pegunungan, hutan lebat, serta aliran sungai di kawasan Meratus dan sekitarnya sebagai benteng pertahanan alami untuk menghambat pergerakan pasukan kolonial. Bersama para pengikutnya, ia melakukan berbagai serangan terhadap pos-pos pertahanan Belanda, mengganggu jalur logistik, serta mempertahankan wilayah pedalaman agar tetap berada di luar kendali pemerintah kolonial. Strategi tersebut membuat pasukan Belanda harus menghadapi perang yang panjang, melelahkan, dan membutuhkan sumber daya yang besar. Dukungan masyarakat menjadi faktor penting yang memungkinkan perjuangan tetap berlangsung. Dalam banyak catatan kolonial, wilayah yang berada di bawah pengaruh Tumenggung Antaluddin dikenal sebagai daerah yang sulit ditaklukkan karena kuatnya dukungan rakyat. 1. Pertempuran Benteng Munggu Thayor Pada akhir tahun 1859, pasukan rakyat yang dipimpin oleh Demang Lehman, Pangeran Antasari, Tumenggung Antaluddin, dan Pambakal Ali Akbar berkumpul di Benteng Munggu Thayor. Munggu Thayor (Munggu Dayor) adalah sebuah benteng yang dibangun oleh rakyat di bawah pimpinan Demang Lehman, Mohammad Aminullah, dan Antaluddin serta pasukan Sultan Kuning. Benteng ini cukup kuat dan sangat sulit ditempuh, terletak antara Tambarangan dan Sungkai. Pada tanggal 28 Desember 1859, pasukan Belanda dengan 200 orang personil infantri, prajurit pendukung, 2 buah meriam, dan 2 mortir menyerang pertahanan rakyat di Sungkai. Setelah Sungkai diserang, Belanda bergerak mendekati Benteng Munggu Thayor. Pasukan Antaluddin terlibat pertempuran mempertahankan benteng dari serbuan Belanda. Sekitar 200 orang bertahan dalam benteng, sedangkan pasukan yang lebih besar berada di luar. Benteng Munggu Thayor akhirnya berhasil diduduki Belanda dan selanjutnya dijadikan sebagai benteng pertahanan. 2. Pertempuran Gunung Madang Tumenggung Antaluddin diminta mendirikan benteng di Gunung Madang atas saran Pangeran Hidayat, Pangeran Antasari, dan Demang Lehman. Letaknya yang sangat strategis membuat Benteng Madang berfungsi sebagai daerah pertahanan Laskar Antaluddin dan laskar lainnya di Pahuluan, sekaligus sebagai benteng tandingan terhadap benteng Belanda yang didirikan di pinggir Sungai (Kali) Amandit. Dalam waktu singkat berdirilah Benteng Madang, dengan kibaran bendera merah berlintang leris gelombang lima berwarna kuning. Benteng yang dibangun itu belum selesai, tetapi sudah diketahui oleh pihak Belanda. Maka pada tanggal 3 September 1860, serdadu Belanda mengadakan patroli untuk melihat dari dekat berdirinya benteng. Mereka berangkat dari Kandangan sebanyak 30 orang serdadu, melewati jalan Karang Jawa Ambarai, menemui rintangan di jembatan Serongga, lalu langsung menuju Gunung Madang. Saat tiba di Gunung Madang, pimpinan benteng Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin menyambut serangan Belanda dengan tembakan dari atas benteng. Empat orang Belanda di antara 30 pasukan penyerang tewas, dan tentara Belanda terpaksa mengundurkan diri ke Amawang. Keesokan harinya, tanggal 4 September 1860, pasukan infantri Belanda dari Batalyon 13 menyerbu benteng tersebut dengan persenjataan yang lebih hebat serta menggunakan orang perantaian (ketitinggangers) di bawah pimpinan Letnan De Brauw dan Sersan De Vries. Namun, orang-orang perantaian justru bergabung dengan Laskar Antaluddin, sehingga pihak Belanda kembali menelan korban. Termasuk di antaranya Letnan De Brauw yang tertembak di pahanya, dan sembilan orang serdadu Belanda lainnya tewas. Untuk kedua kalinya serangan Belanda gagal menguasai benteng. Tanggal 13 September 1860, Belanda kembali melakukan serangan ke Benteng Madang di bawah pimpinan Kapten Koch. Pasukan dilengkapi persenjataan seperti meriam dan bahan peledak lainnya, serta bantuan tentara dari Banjarmasin dan Amuntai yang jumlahnya lebih dari 100 serdadu. Pertempuran ketiga ini berlangsung lebih sengit dan terjadi dalam jarak yang relatif dekat, sekitar 60 meter, sehingga persenjataan pihak Belanda banyak yang rusak. Hal ini dikarenakan pasukan Antaluddin sengaja menumbangkan pohon-pohon besar ke arah meriam, sehingga roda meriam yang dibawa Kapten Koch hancur. Kegagalan Kapten Koch dalam pertempuran ini juga karena keengganan tentara bumiputera untuk bertempur. Terpaksa Belanda untuk kesekian kalinya mundur dan mengalami kekalahan. Peristiwa ini dilaporkan oleh Kapten Koch kepada Mayor Verspyck di Banjarmasin. Mayor Verspyck mengirimkan tambahan serdadu lebih dari 1000 orang yang semuanya orang Belanda, dengan 91 orang opsir, serta beberapa ratus serdadu irlander di bawah pimpinan Mayor Schuck. Belanda lebih banyak membawa meriam, sebuah houwitser, serta mortir. Kapten Koch, pimpinan Belanda pada Benteng Amawang, juga ikut dalam serangan itu. Pasukan dikirim melalui Sungai Amandit dari Banjarmasin dan berpencar di kawasan Hulu Sungai. Menjelang pukul 11.00 siang tanggal 18 September 1860, perang mulai berkecamuk. Pertempuran terjadi dalam jarak 120 meter dan benteng diserbu dari segala penjuru: dari muka, kiri, dan kanan. Di belakang pasukan meriam ada 100 serdadu yang bertahan. Letnan Verspyck yang berani mendekati benteng dari sebelah kanan tersungkur kena tembak. Sedangkan Kapten Koch memimpin pertempuran dengan memberi komando pada pasukan penembak meriam. Para penembak meriam mulai tersungkur terkena tembakan. Kapten Koch sangat panas hatinya karena serangan itu tidak menunjukkan kemajuan sama sekali, hingga akhirnya ia sendiri tertembak di dada dan tewas. Setelah tewasnya Kapten Koch, anak buahnya kocar-kacir dan mengundurkan diri ke Amawang dengan membawa banyak korban. Sedangkan dari pihak Laskar Antaluddin, korban yang jatuh adalah Kiyai Cakrawati, yang gugur saat sedang mengintai musuh di atas menara Benteng Madang, tertembus peluru pada bagian lehernya. Tentara Belanda yang lebih besar datang menyerbu Benteng Madang pada tanggal 22 September 1860. Mereka tidak langsung menyerbu, tetapi membuat bivak dengan karung berisi pasir untuk membangun pertahanan. Sementara tentara Belanda sedang mempersiapkan pertahanan, tiba-tiba pada malam hari sekitar pukul 23.00 pasukan Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin menyerbu tentara Belanda dengan gencar. Tentara Belanda yang sebelumnya tidak menyangka ada serangan mendadak menjadi panik dan kucar-kacir tanpa dapat membalas. Dengan siasat ini pula, seluruh pasukan Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin mengosongkan Benteng Gunung Madang dan bergabung dengan pasukan di daerah Batumandi. Alangkah kecewanya Belanda ketika dengan hati-hati memasuki benteng untuk menghancurkan kekuatan Demang Lehman dan pasukannya, ternyata benteng sudah kosong; hanya ditemukan satu mayat yang ditinggalkan. Seorang pejuang wanita, Kiai Cakra Wati, sangat tangkas menunggang kuda ikut mempertahankan Benteng Gunung Madang. Ia kemudian berpisah dan membawa pasukannya menuju Gunung Pamaton. Pasukan Gusti Muhammad Said, putera Pangeran Antasari sekaligus menantu Panembahan Muda Datu Aling, sedang berada di sekitar Kandangan dengan 400 orang pasukannya. Hampir seluruh pambakal di daerah Kandangan membantu Gusti Muhammad Said. Pangeran Hidayat dan Haji Buyasin juga saat itu berada di Kandangan. Pertempuran dengan Belanda segera terjadi di sekitar Karang Jawa, Paluang, Sungai Luang, dan lain-lain. Puncak pertempuran sengaja dipilih pada tanggal 28 April 1861, bertepatan dengan ulang tahun kedua Perang Banjar. Pertempuran terpencar-pencar di seluruh Kandangan. Orang Kandangan yang terkenal berdarah panas mengamuk dengan parang bungkulnya, sehingga setiap pertempuran selalu menjatuhkan banyak korban. D. Penutup Meskipun tidak sepopuler tokoh-tokoh seperti Pangeran Antasari atau Demang Lehman dalam narasi sejarah nasional, peran Tumenggung Antaluddin memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan Perang Banjar pada fase-fase selanjutnya. Ia merupakan representasi pemimpin lokal yang mampu memadukan kepemimpinan adat, kemampuan militer, dan kedekatan sosial dalam menghadapi kekuatan kolonial. Perjuangannya menunjukkan bahwa keberhasilan mempertahankan perlawanan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan persenjataan, tetapi juga oleh kemampuan membangun jaringan solidaritas masyarakat serta penguasaan terhadap kondisi geografis daerah perjuangan. Kini, nama Tumenggung Antaluddin dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan. Kiprahnya menjadi bukti bahwa Perang Banjar merupakan perjuangan kolektif yang melibatkan banyak pemimpin daerah dengan latar belakang yang beragam. Pengkajian terhadap kehidupan dan perjuangan Tumenggung Antaluddin tidak hanya memperkaya historiografi Perang Banjar, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai peran para pemimpin lokal dalam membentuk sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Indonesia. Daftar Pustaka: - Aziddin, Yustan, dkk. 1983/1984. Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Kalimantan Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. - Hendraswati. Peristiwa Bersejarah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan (1850-1950). Pontianak: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. - Ideham, M. Suriansyah, dkk. 2003. Sejarah Banjar. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. - Nurcahyani, Lisyawati, dkk. 2006. Sejarah Pemerintahan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan. Pontianak: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisi. - Saleh, M. Idwar. 1993. Pangeran Antasari. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. - Sjamsuddin, Helius. 1995. Antasari. Jakarta: Balai Pustaka. - Subiyakto, Bambang, dkk. 2019. Pangeran Hidayatullah. Yogyakarta: Arti Bumi Intaran.

Tokoh Lainnya